Minggu, 24 Mei 2026

Penyakit Lato-lato Mengancam, Peternak Sapi Diminta Waspada

Selasa, 15 April 2025 11:25 WIB
Penyakit Lato-lato Mengancam, Peternak Sapi Diminta Waspada
Petugas memeriksa kondisi sapi milik warga sebagai langkah pencegahan terhadap penyebaran penyakit Lumpy Skin Disease (LSD) atau lato-lato di Kabupaten Temanggung. (Dok/Diskominfo Jateng)
Temanggung (buseronline.com) - Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) mengingatkan para peternak untuk mewaspadai penyakit Lumpy Skin Disease (LSD), atau yang dikenal dengan istilah lato-lato, yang dapat membahayakan ternak sapi.

Meskipun penyakit ini tidak menular pada manusia, namun dapat menimbulkan kerugian besar bagi peternak karena dapat menyebabkan kematian pada ternak dalam waktu singkat.

Ketua PDHI Cabang Jateng 3, drh Esty Dwi Utami, mengatakan bahwa penyakit lato-lato disebabkan oleh infeksi LSDV (Lumpy Skin Disease Virus) yang merupakan bagian dari genus capripoxvirus dan famili poxviridae.

"Penyakit lato-lato bisa menyebabkan ternak mati dalam waktu singkat, sehingga menimbulkan kerugian besar bagi peternak," ujarnya pada Jumat (11/4/2025).

Meskipun saat ini belum ada temuan kasus lato-lato di Temanggung dan sekitarnya, Esty, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKPPP) Kabupaten Temanggung, mengimbau peternak untuk berhati-hati dan sebisa mungkin menghindari membeli ternak dari daerah yang terjangkit penyakit ini.

Ia menjelaskan bahwa penyakit ini biasanya menyebar melalui serangga pengisap darah seperti lalat, nyamuk, dan kutu dari spesies tertentu.

Virus LSD dapat menular secara langsung melalui cairan tubuh, seperti air liur, darah, dan susu, dari sapi yang terinfeksi ke sapi yang sehat. Penularan juga bisa terjadi secara tidak langsung, terutama melalui peralatan kandang atau jarum suntik yang terkontaminasi virus.

Gejala yang umum muncul pada sapi yang terinfeksi lato-lato antara lain peningkatan produksi kotoran mata dan hidung, penurunan produksi susu, demam tinggi melebihi 41 derajat Celcius, dan munculnya nodul atau benjolan keras berdiameter 2 cm hingga 5 cm. Nodul ini dapat muncul di kepala, leher, tungkai, kaki, dan ekor sapi, menyebabkan ternak menjadi lemah dan sulit bergerak.

“Pada kasus yang serius, nodul dapat menyebar hampir ke seluruh tubuh ternak dan dapat berubah menjadi lesi nekrotik dan ulserat jika tidak segera ditangani,” jelas Esty.

Esty mengimbau para peternak untuk segera melaporkan ke penyuluh, mantri hewan, atau DKPPP jika menemukan gejala penyakit lato-lato pada ternaknya. Upaya pencegahan dan penanganan dini sangat penting untuk mencegah penyebaran penyakit ini. (R)
Editor
: EM Bukit MKes
beritaTerkait
Peternak Muda Ambarawa Raih Juara II Lomba Domba Ekstrem Piala Gubernur Jateng 2026
Presiden Prabowo Komitmen Perkuat Kedaulatan Pangan dan Hentikan Kebocoran Kekayaan Negara
Prabowo Subianto Tinjau Panen Raya Udang di Kebumen, Warga Sambut Antusias
KPK Soroti Risiko Korupsi di Sektor Transportasi, Kemenhub Masuk Kategori Rentan SPI 2025
SAFest 2026 Angkat Sport Tourism Tapanuli Utara, Bupati JTP Ikut Gowes dan Renang di Danau Toba
Kemendikdasmen Dorong Pemerataan Pendidikan Lewat Digitalisasi Wilayah 3T
komentar
beritaTerbaru