Rabu, 07 Oktober 2026

Transformasi Digital Kesehatan, Wamenkes Pastikan Semua Terjangkau

Rabu, 13 November 2024 06:44 WIB
Transformasi Digital Kesehatan, Wamenkes Pastikan Semua Terjangkau
Wakil Menteri Kesehatan Prof Dante Saksono Harbuwono seusai menyampaikan sambutan pada acara UNDP Indonesia Policy Volume di Gedung Tri Brata, Jakarta, Senin (11/11/2024). (Dok/Kemenkes)
Jakarta (buseronline.com) - Wakil Menteri Kesehatan Prof Dante Saksono Harbuwono menegaskan pentingnya inklusivitas dalam transformasi digital di sektor kesehatan, dalam sambutannya pada acara UNDP Indonesia Policy Volume bertema Bright Prospect, Lingering Shadows: Toward an Inclusive Digital Transformation in Indonesia, di Gedung Tri Brata, Jakarta, Senin.

Prof Dante menekankan bahwa langkah menuju Indonesia Sehat bergantung pada konektivitas dan integrasi data yang merata.

“Dengan memfasilitasi konektivitas, integrasi data, dan layanan kesehatan yang dapat diakses secara nasional, kita berjuang merealisasikan visi Indonesia sehat untuk mendukung pilar keenam transformasi kesehatan, yaitu transformasi teknologi kesehatan,” ujar Prof Dante.

Sebagai upaya mewujudkan visi tersebut, Kemenkes telah menerbitkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/1568/2024 tentang Sistem Monitoring Inventaris Logistik Kesehatan secara Elektronik. Prof Dante berharap kegiatan yang diselenggarakan UNDP ini mampu memberikan masukan bagi Kemenkes untuk memperkuat kebijakan digitalisasi yang inklusif.

Kepala Perwakilan UNDP Indonesia, Norimasa Shimomura, menyebut tiga tantangan utama dalam transformasi digital di Indonesia: kesenjangan digital, standar etika, dan polarisasi.

Menurutnya, digitalisasi dapat menghubungkan kebijakan dengan masyarakat luas. “Perlu mengatasi kesenjangan digital, memperkuat standar etika, dan melawan polarisasi dengan memanfaatkan transformasi digital bagi seluruh masyarakat Indonesia,” ujar Norimasa.

Norimasa juga menyoroti empat isu terkait kesenjangan digital di Indonesia :

Pertama, perbedaan akses digital antarwilayah; pengguna internet di Jakarta mencapai 84,7%, sedangkan di Papua hanya 26,5%.

Kedua, kesenjangan gender dan usia; meski kesenjangan akses internet antara laki-laki dan perempuan berkurang, perempuan lanjut usia di pedesaan masih kesulitan.

Ketiga, risiko disinformasi; sekitar 82 juta orang di Indonesia rentan terhadap propaganda digital.

Keempat, polarisasi digital yang memperdalam ruang gema di dunia maya.

Prof Dante menyambut baik masukan ini dan menegaskan bahwa inklusivitas adalah kunci keberhasilan transformasi digital.

“Bersama-sama kita dapat menjembatani kesenjangan digital, menjunjung tinggi standar etika, dan mengatasi polarisasi sosial, memastikan manfaat transformasi digital dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia,” tutupnya. (R)
Editor
: EM Bukit MKes
beritaTerkait
BPK RI Periksa Pengelolaan Almatsus Polri, Korbrimob Siap Transparan
Dinkes Bandung Kejar Anak Zero Dose Lewat Bulan Imunisasi Sepanjang Oktober
Teratai Fighter Team Korbrimob Polri Juara Umum Tegar Beriman Championship, Sabet 7 Medali Emas
Italia Kalahkan Turki 3-1, Gli Azzurri Naik ke Posisi Kedua
Tagline Baru Kapolri “Polisi Bersama Masyarakat” Mulai Disosialisasikan di Korlantas
Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Ranking FIFA Naik ke Posisi 117 Dunia
komentar
beritaTerbaru