Selasa, 27 Oktober 2026

Kemenkes Salurkan 137 Ribu Masker N95 untuk Warga Terdampak Karhutla di Palangkaraya

Selasa, 27 Oktober 2026 16:00 WIB
Kemenkes Salurkan 137 Ribu Masker N95 untuk Warga Terdampak Karhutla di Palangkaraya
Kemenkes RI menyalurkan tambahan 137 ribu masker N95 untuk melindungi masyarakat dari dampak kabut asap akibat karhutla di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Palangkaraya (buseronline.com) - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menyalurkan tambahan 137 ribu masker N95 untuk melindungi masyarakat dari dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Dilansir dari laman Kemkes, selain bantuan masker, pemerintah juga memperkuat pelayanan kesehatan di puskesmas dan rumah sakit serta memastikan ketersediaan alat kesehatan untuk menangani gangguan pernapasan.

Hingga saat ini, pemerintah pusat telah menyalurkan sebanyak 1.210.230 masker ke berbagai daerah terdampak karhutla. Bantuan tersebut terdiri atas 1.001.680 masker medis tiga lapis dan 208.550 masker KN95/N95, di luar distribusi yang dilakukan pemerintah daerah.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, penyaluran bantuan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan kabut asap. Pemerintah juga merencanakan distribusi hingga 500 ribu masker untuk setiap provinsi terdampak.

Budi mengimbau masyarakat agar mengurangi aktivitas di luar rumah selama kualitas udara masih buruk, terutama bayi, balita, ibu hamil, dan lanjut usia yang lebih rentan mengalami gangguan kesehatan.

"Kalau tidak perlu, jangan keluar rumah, terutama balita, ibu hamil, dan orang tua. Kalau memang harus keluar, gunakan masker N95 dan pastikan dipakai dengan benar agar tidak ada celah dari sisi atas, bawah, maupun samping," ujar Budi saat melakukan kunjungan kerja di Palangkaraya, pada 23 Oktober 2026.

Ia menjelaskan, partikel halus PM2.5 yang terkandung dalam asap dapat masuk ke saluran pernapasan hingga mencapai paru-paru. Oleh karena itu, masyarakat perlu membatasi paparan asap dan segera mencari pertolongan medis apabila mengalami gejala gangguan pernapasan yang memburuk.

Kemenkes juga mendorong tenaga kesehatan di puskesmas untuk meningkatkan edukasi mengenai bahaya kabut asap, penggunaan masker yang benar, serta gejala infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang perlu diwaspadai.

Menurut Budi, sebagian besar kasus ISPA dapat ditangani di rumah dengan istirahat cukup dan memenuhi kebutuhan cairan. Namun, masyarakat yang mengalami sesak napas harus segera mendatangi puskesmas untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis.

"Sebagian besar ISPA bisa dirawat di rumah dengan istirahat dan minum air yang cukup. Namun, kalau mulai mengalami sesak napas, segera datang ke puskesmas. Jika kondisinya lebih berat, seperti pneumonia atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) yang memburuk, pasien harus dirujuk ke rumah sakit," jelasnya.

Untuk mendukung penanganan pasien, Kemenkes turut berkoordinasi dengan berbagai pihak guna memastikan ketersediaan oksigen dan tabung oksigen di fasilitas pelayanan kesehatan yang membutuhkan.

Kesiapan layanan rujukan juga menjadi perhatian saat Menkes meninjau RSUD dr Doris Sylvanus di Palangkaraya. Berdasarkan laporan pihak rumah sakit, jumlah pasien meningkat hingga tiga kali lipat. Meski kapasitas pelayanan masih tersedia, peningkatan jumlah pasien tersebut perlu diantisipasi agar penanganan tetap berjalan optimal.

Kemenkes berencana mempercepat pemenuhan ventilator dan alat kesehatan lainnya, terutama untuk rumah sakit kabupaten dan kota di Kalimantan Tengah yang menangani pasien dengan gangguan pernapasan berat, termasuk anak-anak.

Budi menegaskan, upaya perlindungan kesehatan masyarakat harus terus diperkuat selama kabut asap masih mengancam. Penanganan dampak kesehatan juga harus berjalan beriringan dengan upaya pemadaman karhutla, terutama di lahan gambut yang memungkinkan api bertahan di bawah permukaan tanah.

Ia berharap masyarakat tetap waspada, mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker dengan benar, serta segera mengakses layanan kesehatan jika mengalami gangguan pernapasan.

"Kami bersama Dinas Kesehatan, puskesmas, dan rumah sakit berupaya memastikan dampak kesehatannya seminimal mungkin. Masyarakat perlu mengurangi paparan asap, menggunakan masker dengan benar, dan segera mencari pertolongan jika mengalami gangguan pernapasan," tutup Budi. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Kemenkes Perkuat Upaya Pencegahan Kebutaan, Targetkan Satu Juta Orang Jalani Deteksi Dini Gangguan Penglihatan
Kemenkes Catat 109 Juta Warga Ikuti Cek Kesehatan Gratis, Kasus TB Mulai Menurun
Kemenkes Percepat Pemerataan Dokter Spesialis, 55.192 Dokter Masih Dibutuhkan
Kemenkes dan UI Mulai Uji Klinik Photon, Teliti Peran Gizi dalam Mencegah Penularan Tuberkulosis
Kemenkes Kirim 500 Ribu Masker Tambahan per Provinsi untuk Tangani Dampak Karhutla
Kemenkes Perkuat Deteksi Dini Gangguan Penglihatan, 1,6 Juta Orang Terindikasi Bermasalah pada Mata
komentar
beritaTerbaru