Rabu, 23 September 2026

Jateng Dinilai Berhasil Tekan Stunting, Demak dan Kabupaten Semarang Jadi Percontohan

Rabu, 23 September 2026 14:25 WIB
Jateng Dinilai Berhasil Tekan Stunting, Demak dan Kabupaten Semarang Jadi Percontohan
Rakortek dan Advokasi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting Regional Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara di Semarang, Selasa (22/9/2026).

Semarang (buseronline.com) - Provinsi Jawa Tengah mendapat perhatian dalam upaya percepatan penurunan stunting. Kolaborasi lintas sektor serta layanan kesehatan yang menjangkau langsung masyarakat hingga desa dinilai menjadi salah satu praktik yang dapat diterapkan di daerah lain.

Dilansir dari laman Jatengprov, Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Peningkatan Kesejahteraan dan Pembangunan Sumber Daya Manusia (PKPSDM) Sekretariat Wakil Presiden (Setwapres) Eddy Cahyono Sugiarto mengatakan komitmen pemerintah daerah Jawa Tengah dalam menangani stunting diharapkan dapat menjadi pemicu bagi daerah lain.

"Saya yakin tadi dengan semangat yang luar biasa, komitmen kepemimpinan khususnya di Provinsi Jawa Tengah ini, diharapkan bisa menjadi trigger bagi daerah-daerah lain untuk dapat melakukan langkah serupa," kata Eddy saat menghadiri Rapat Koordinasi Teknis (Rakortek) dan Advokasi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting Regional Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara di Semarang, pada 22 September 2026.

Menurut Eddy, penanganan stunting tidak cukup dilakukan melalui intervensi gizi. Persoalan tersebut juga berkaitan dengan lingkungan, sanitasi, infrastruktur, air bersih, serta faktor sosial lainnya. Karena itu, diperlukan kolaborasi berbagai pihak mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah hingga pemerintahan desa.

"Tadi sudah bersepakat, ada learn to learn dari dua kabupaten, dari Demak maupun dari Kabupaten Semarang. Nah, ini kita coba eskalasi untuk bisa direplika di tempat-tempat lain," ujarnya.

Eddy menyebut berdasarkan data 2024, prevalensi stunting nasional berada pada angka 19,8 persen. Pemerintah menargetkan prevalensi tersebut terus turun sesuai sasaran dalam RPJMN 2025-2029.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan penanganan stunting di wilayahnya dilakukan dengan memperkuat kolaborasi antara pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota hingga desa.

Berdasarkan data triwulan II 2026, prevalensi stunting Jawa Tengah tercatat 9,93 persen. Kabupaten Demak dan Kabupaten Semarang bahkan disebut menjadi daerah yang dapat dijadikan contoh dalam penanganan stunting.

Luthfi mengatakan pengalaman kedua daerah tersebut akan dipelajari untuk kemudian diterapkan di daerah lain dengan menyesuaikan kondisi masing-masing. "Prinsipnya ATM, amati, tiru, dan modifikasi," kata Luthfi.

Menurut dia, pendekatan tersebut terutama akan didorong di sejumlah daerah yang masih membutuhkan penguatan penanganan stunting, antara lain Wonosobo, Purbalingga, dan Banjarnegara.

Selain memperkuat kolaborasi, Pemprov Jawa Tengah juga mengoptimalkan program Dokter Spesialis Keliling (Speling) untuk mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat desa.

Luthfi menyebut program tersebut telah memberikan pelayanan kesehatan gratis kepada hampir 14 juta masyarakat.

"Jawa Tengah mempunyai dokter spesialis keliling, yang hari ini sudah mendekati angka 14 juta masyarakat terlayani gratis. Ini enggak main-main," ujarnya.

Layanan tersebut, kata Luthfi, dapat diarahkan ke daerah dengan persoalan stunting tinggi agar pemeriksaan dan intervensi kesehatan dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran.

Ia mencontohkan hasil pemeriksaan kesehatan bayi saat dirinya berkunjung ke Wonosobo. Dari 10 bayi yang diperiksa, sembilan di antaranya disebut mengalami stunting.

"Saya datang ke sana, melakukan cek kesehatan gratis. Dari 10 orang bayi yang kita periksa, sembilan stunting," katanya.

Luthfi menilai kondisi tersebut menunjukkan pentingnya layanan kesehatan yang hadir hingga wilayah desa dan terpencil. Selain pemeriksaan kesehatan, masyarakat juga perlu mendapatkan edukasi mengenai gizi dan kesehatan anak.

Di sisi lain, Sekretaris Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Sekretaris Utama BKKBN Profesor Budi Setiyono mengatakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat dimanfaatkan untuk memperkuat upaya penanganan stunting.

Menurut Budi, sasaran MBG yang mencakup ibu hamil, ibu menyusui, balita, dan anak PAUD dapat mendukung upaya pencegahan stunting apabila pelaksanaannya dilakukan secara tepat sasaran.

"Dengan adanya program MBG khususnya yang berkaitan dengan 3B, ibu hamil, menyusui dan balita, dan PAUD, itu diharapkan penanganan stunting bisa lebih efektif," kata Budi.

Kolaborasi lintas sektor, penguatan pelayanan kesehatan hingga desa, serta pemanfaatan program pemerintah menjadi bagian dari strategi untuk mempercepat penurunan stunting di Jawa Tengah dan daerah lainnya. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Pemprov Jateng Bebaskan Denda Pajak Kendaraan hingga Desember 2026
Kemendikdasmen Perkuat Diplomasi Indonesia-Prancis Lewat Bahasa dan Sastra
242 Sekolah di Jateng Raih Predikat Adiwiyata, Kepedulian Lingkungan Ditanamkan Sejak Dini
Borobudur Indonesia Expo 2026 Ditargetkan Dongkrak Ekonomi Kota Magelang
Jateng Dorong Perlindungan Lahan Sawah untuk Perkuat Ketahanan Pangan
Sekda Jateng Dorong Sekolah Rakyat Siapkan Masa Depan Peserta
komentar
beritaTerbaru