Rabu, 14 Oktober 2026

BNPB Catat 639,23 Hektare Lahan Masih Terbakar di Enam Provinsi Prioritas

Rabu, 14 Oktober 2026 20:28 WIB
BNPB Catat 639,23 Hektare Lahan Masih Terbakar di Enam Provinsi Prioritas
Kepala BNPB Suharyanto menyampaikan laporan perkembangan penanganan karhutla tersebut kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat yang digelar secara hybrid dari Istana Merdeka, Jakarta.

Jakarta (buseronline.com) - Pemerintah Indonesia terus mengintensifkan upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, luas lahan yang masih dalam proses pemadaman di enam provinsi prioritas mencapai 639,23 hektare.

Kepala BNPB Suharyanto menyampaikan laporan perkembangan penanganan karhutla tersebut kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat yang digelar secara hybrid dari Istana Merdeka, Jakarta.

Enam provinsi yang menjadi prioritas penanganan karhutla, khususnya di lahan gambut, yakni Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, dan Riau.

"Untuk hari ini yang terbakar, yang masih ditangani oleh satgas di lapangan, jumlahnya adalah 639,23 hektare, yang terbesar memang terjadi di Kalimantan Tengah," kata Suharyanto.

Ia menjelaskan, Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan luasan kebakaran terbesar setelah ditemukan titik kebakaran baru di Taman Nasional Tanjung Puting, yang berada di Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kabupaten Seruyan. "Per hari ini ada 513,89 hektare yang terbakar di sana," ujarnya.

Untuk mempercepat penanganan karhutla, pemerintah mengerahkan personel dan peralatan pemadam melalui operasi darat serta udara. BNPB juga mengoperasikan helikopter untuk melakukan pengeboman air atau water bombing di lokasi yang sulit dijangkau petugas.

Beberapa wilayah yang menjadi sasaran operasi udara tersebut antara lain Taman Nasional Way Kambas, Taman Nasional Tanjung Puting di kawasan Pangkalan Bun, serta Halmahera Timur di Maluku Utara.

Suharyanto mengatakan, operasi pemadaman di Kalimantan Tengah dan Sumatra Selatan saat ini lebih difokuskan melalui jalur darat. Hal itu dilakukan karena operasi udara di Kalimantan Tengah terkendala cuaca dan jarak pandang yang terbatas.

Sementara itu, penerbangan untuk mendukung pemadaman di Sumatra Selatan baru dapat dilakukan pada hari pelaporan. Pemerintah juga berencana menggabungkan operasi tersebut dengan modifikasi cuaca serta menambah armada pesawat.

"Kalimantan Tengah menggunakan empat pesawat dan Sumatra Selatan menggunakan dua pesawat dari Pangkal Pinang," jelas Suharyanto.

Selain memperkuat operasi pemadaman, pemerintah terus memantau prakiraan cuaca yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Potensi hujan di sejumlah wilayah diharapkan dapat membantu mengurangi risiko dan intensitas kebakaran.

Suharyanto berharap hujan alami mulai turun pada pertengahan Oktober hingga November sehingga kondisi karhutla dapat berangsur membaik.

Meski demikian, pemerintah menegaskan akan terus melakukan upaya penanganan secara maksimal sebelum musim hujan tiba.

"Setelah musim hujan turun, tentu saja kondisi karhutla akan lebih baik. Tapi sebelum itu kami siap untuk bekerja keras mengerahkan segala kemampuan yang kami miliki," pungkasnya.

BNPB bersama satuan tugas terkait terus mengupayakan pemadaman di wilayah terdampak guna mengendalikan kebakaran dan mencegah meluasnya area yang terbakar. (DKI1)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Asap Selimuti Sumut, Jarak Pandang Turun hingga 1 Kilometer
Presiden Prabowo Siapkan 200 Pompa Air dan Rp2 Miliar untuk Tangani Karhutla Tanjung Puting
Banjir Kembali Terjang Padang, 120 Rumah Terendam, 238 Warga Dievakuasi
Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026 Usai Kalahkan Thailand Lewat Adu Penalti
Presiden Prabowo Panggil Kepala Bakom, Tekankan Komunikasi Pemerintah Harus Dekat dengan Masyarakat
Prabowo Angkat 26 Anggota Wantimpres, Pratikno: Kami Berikan Pertimbangan kepada Presiden
komentar
beritaTerbaru