Kamis, 08 Oktober 2026

Adaptasi Bretton Woods Jadi Bahasan Menkeu di Tengah Ketidakpastian Global

Rabu, 02 Juli 2025 12:06 WIB
Adaptasi Bretton Woods Jadi Bahasan Menkeu di Tengah Ketidakpastian Global
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat menerima kunjungan penasihat eksternal IMF dan Bank Dunia dalam diskusi “Bretton Woods at 80” di Gedung Maramis Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (30/6/2025). (Dok/Kemenkeu)
Jakarta (buseronline.com) - Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani Indrawati, menerima kunjungan dua penasihat eksternal utama Dana Moneter Internasional (IMF) dan Grup Bank Dunia di Gedung Maramis Kementerian Keuangan, Senin.

Pertemuan ini menjadi bagian dari diskusi strategis bertema “Bretton Woods at 80”, yang menyoroti adaptasi institusi Bretton Woods (BWI) di tengah tantangan global yang kian kompleks.

Dalam pertemuan tersebut, Menteri Keuangan berdiskusi dengan Patrick Jerome Achi, mantan Perdana Menteri Republik Pantai Gading, dan George Mark The Lord Malloch-Brown, mantan Perdana Menteri dan Menteri Keuangan Kepulauan Cook. Keduanya merupakan penasihat eksternal yang ditunjuk langsung oleh Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva dan Presiden Grup Bank Dunia Ajay Banga.

Institusi Bretton Woods, yakni IMF dan Bank Dunia, didirikan pasca-Perang Dunia II dengan mandat utama untuk membantu rekonstruksi negara-negara terdampak perang serta menjaga stabilitas sistem keuangan dan perekonomian global. Kini, di usia ke-80 tahun, tantangan yang dihadapi menjadi semakin beragam dan memerlukan penyesuaian kebijakan yang lebih fleksibel dan inklusif.

“BWI harus terus beradaptasi dengan perubahan kondisi dan harapan dari 191 negara anggota, serta tantangan dan suasana global yang makin dinamis,” ujar Sri Mulyani sebagaimana dikutip dari akun Instagram resminya @smindrawati.

Sri Mulyani menekankan bahwa tantangan global saat ini tidak lagi bersifat tunggal, tetapi saling berkaitan dan berdampak sistemik. Ia menyebut sejumlah isu krusial yang mendesak untuk direspon oleh BWI, antara lain meningkatnya fragmentasi geopolitik, ancaman perubahan iklim, potensi pandemi baru, revolusi digital, dinamika demografi dan migrasi, serta konflik bersenjata di berbagai kawasan.

Menurutnya, agar tetap relevan, IMF dan Bank Dunia harus menjadi lembaga yang mampu bertransformasi dan memberikan solusi konkret bagi negara-negara anggotanya, terutama dalam pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif.

“Institusi global seperti IMF dan Bank Dunia perlu memperkuat fleksibilitas kebijakan, memastikan inklusivitas, dan terus mendengarkan kebutuhan nyata negara-negara berkembang dan berkembang pesat,” tambahnya.

Pertemuan ini merupakan bagian dari rangkaian dialog dan konsultasi strategis dalam rangka menyusun agenda reformasi kelembagaan Bretton Woods agar tetap menjadi pilar stabilitas dan pembangunan global.

Dengan terus mendorong adaptasi dan relevansi kedua lembaga multilateral tersebut, Indonesia menunjukkan perannya sebagai negara berkembang yang aktif dalam arsitektur keuangan global serta berkomitmen terhadap penguatan tata kelola ekonomi dunia yang adil dan berkelanjutan. (R)
Editor
: Dirgahayu Ginting
beritaTerkait
Spanyol Comeback 2-1 atas Kroasia, Mikel Merino Jadi Pahlawan
Harry Kane Brace, Inggris Hajar Republik Ceko 3-0 di Wembley
Menteri Koperasi Kunjungi KDMP Pantai Pasifik Toba, Dorong Ekonomi Rakyat Berbasis Koperasi
400 Guru Mengaji Bandung Dipersiapkan Jadi Penggerak Pemberantasan Buta Huruf Al-Qur'an
Korlantas Polri Bersama KemenPAN-RB dan BSSN Bahas Integrasi SIM dan STNK Digital
FLS3N 2026 Resmi Berakhir, Siswa Didorong Terus Berkarya dan Lestarikan Budaya
komentar
beritaTerbaru