Sejumlah agenda turut meramaikan festival tersebut, termasuk kehadiran desainer senior Edward Hutabarat dan narasumber dari Jakarta. Selain peragaan busana, sesi talkshow akan membahas ulos dan perkembangannya dalam industri fesyen modern.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Medan M Odi Anggia Batubara, mengatakan MFCF tidak sekadar menjadi panggung bagi desainer untuk menampilkan karya, tetapi juga diharapkan memberikan dampak berkelanjutan bagi pelaku ekonomi kreatif.
Menurutnya, kolaborasi antara desainer, perajin, penyedia bahan baku, dan UMKM dapat membangun rantai usaha yang saling mendukung. Dengan demikian, pengembangan fesyen berbasis budaya dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
Untuk memperluas pemasaran, produk desainer dan
UMKM diharapkan dapat dipasarkan melalui gerai Dekranasda di Mal Pelayanan Publik (MPP) dan Mustika Deli. Upaya tersebut diharapkan membuat produk lokal semakin dikenal dan menjangkau konsumen yang lebih luas, termasuk setelah festival berakhir.
Melalui MFCF 2026, ulos diharapkan tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga berkembang menjadi produk kreatif yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Inovasi ini sekaligus membuka peluang bagi perajin dan
UMKM untuk meningkatkan nilai produk, memperluas pasar, serta memperkuat daya saing fesyen lokal. (P3)
beritaTerkait
komentar