Jumat, 02 Oktober 2026

Kementan Percepat Infrastruktur Air Pertanian, Jaga Produksi dan Tingkatkan Indeks Pertanaman

Jumat, 02 Oktober 2026 12:50 WIB
Kementan Percepat Infrastruktur Air Pertanian, Jaga Produksi dan Tingkatkan Indeks Pertanaman
Foto bersama dalam rapat koordinasi percepatan pelaksanaan kegiatan IRPIP, IRPOM, dan Bangunan Konservasi TA 2026 di Denpasar, Bali, Rabu (24/9/2026).

Denpasar (buseronline.com) - Kementerian Pertanian (Kementan) RI mempercepat pembangunan infrastruktur air pertanian melalui program irigasi perpompaan (IRPOM), irigasi perpipaan (IRPIP), dan bangunan konservasi Tahun Anggaran 2026.

Dilansir dari laman Kementan, percepatan tersebut dilakukan untuk memastikan ketersediaan air bagi lahan pertanian selama musim kemarau. Selain menjaga keberlanjutan pertanaman, program ini diarahkan untuk meningkatkan indeks pertanaman (IP), produksi, dan produktivitas pertanian.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan ketersediaan air menjadi salah satu faktor utama dalam menjaga produksi pertanian. Menurutnya, penguatan infrastruktur air diperlukan agar lahan pertanian tetap dapat ditanami meski menghadapi kondisi kemarau.

"Air adalah faktor penentu produksi. Karena itu, pompanisasi menjadi solusi cepat untuk memastikan sawah tetap mendapat pasokan air sehingga petani bisa terus tanam dan meningkatkan indeks pertanaman," ujar Amran.

Sejalan dengan arahan tersebut, Kementan mempercepat pelaksanaan pembangunan IRPOM, IRPIP, dan bangunan konservasi di berbagai daerah.

Direktur Konservasi dan Pengembangan Sumber Air Pertanian (KPSAP) Kementan, Asmarhansyah, mengatakan percepatan pembangunan diperlukan agar infrastruktur yang dibangun dapat segera dimanfaatkan oleh petani.

"Kementerian Pertanian terus mempercepat pelaksanaan kegiatan mitigasi kekeringan melalui pembangunan irigasi perpompaan, irigasi perpipaan, dan bangunan konservasi. Percepatan ini diperlukan untuk menghadapi dampak perubahan iklim dan fenomena El Nino, sekaligus memastikan kebutuhan air bagi pertanaman tetap terpenuhi," kata Asmarhansyah dalam Rapat Koordinasi Percepatan Pelaksanaan Kegiatan IRPIP, IRPOM, dan Bangunan Konservasi TA 2026 di Denpasar, Bali, pada 24 September 2026.

Ia menegaskan, pembangunan infrastruktur air harus memberikan manfaat nyata bagi petani. Karena itu, penyelesaian pekerjaan perlu dikejar sehingga fasilitas tersebut dapat digunakan ketika kebutuhan air pertanian meningkat.

"Pak Menteri menginginkan intervensi infrastruktur air ini selesai di musim kemarau, karena manfaatnya harus dapat dirasakan langsung oleh petani. Dengan demikian, kita dapat menyelamatkan pertanaman sekaligus meningkatkan indeks pertanaman (IP)," ujarnya.

Selain mempercepat pembangunan fisik, Kementan juga memperkuat proses verifikasi dan validasi di lapangan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan lokasi, sumber air, luas lahan, dan penerima manfaat sesuai dengan kebutuhan program.

Koordinator Kelompok Substansi Pengembangan Sumber Air Pertanian, Emir Kartajasa, mengatakan keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh selesainya pembangunan secara fisik, tetapi juga manfaat yang diberikan kepada petani.

"Poin penting dari kegiatan apa pun itu adalah menghasilkan output dan outcome. Dalam rapat ini, kami juga ingin bahwa apa yang menjadi verifikasi dan validasi kita di lapangan itu betul-betul bermanfaat. Sumber airnya ada, luas lahannya juga ada," kata Emir dalam rangkaian rapat koordinasi di Palembang, Sumatera Selatan.

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Pemerintah Siapkan Rp17 Triliun untuk Bangun Ekosistem Peternakan Terintegrasi
Kementan Siapkan hingga 2 Juta Hektare untuk Pengembangan Bioetanol Nasional
KPK Dorong PAKSI Bali Perkuat Edukasi dan Budaya Antikorupsi
Kementan Siapkan Rp28,02 Triliun untuk Perkuat Pertanian 2027
Pemerintah Buka Akses Bantuan Alsintan bagi Buruh Tani
Mentan Amran Copot Permanen 13 Pejabat Kementan karena Terlibat Judi Online
komentar
beritaTerbaru