Jakarta (buseronline.com) - Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa mendorong optimalisasi berbagai kebijakan untuk memperkuat daya saing industri dalam negeri dan meningkatkan penetrasi produk Indonesia ke pasar ekspor global.
Hal tersebut disampaikan Purbaya dalam diskusi bertajuk Free Trade Agreements on Indonesia Industrialization and Economic Performance di Aula Mezzanine, Kompleks Kementerian Keuangan, Jakarta, pada 20 Agustus 2026.
Purbaya mengatakan Kementerian Keuangan akan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan fiskal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional hingga mencapai target 6-8 persen.
Menurutnya, pemerintah perlu menerapkan pendekatan baru dalam memanfaatkan Perjanjian Perdagangan Bebas (Free Trade Agreement/FTA).
Pemanfaatan FTA, kata dia, harus didukung analisis data yang lebih presisi dan pemodelan ekonometrika modern agar memberikan manfaat maksimal bagi perekonomian nasional.
"September ke depan kita akan ubah approach Kementerian Keuangan bagaimana menghidupkan perekonomian. Saya ingin menggunakan semua yang ada untuk memaksimalkan potensi ekonomi kita," ujar Purbaya.
Ia menjelaskan, pemerintah akan melakukan pemetaan secara komprehensif terhadap sektor-sektor industri dalam negeri. Pemetaan tersebut diperlukan untuk menentukan perlindungan dan insentif yang tepat sasaran sekaligus memperkuat posisi tawar Indonesia dalam perundingan perdagangan internasional.
Selain melalui kebijakan perdagangan, peningkatan daya saing ekspor juga akan didorong melalui pengembangan energi bersih. Pemerintah berencana mempercepat investasi energi terbarukan, termasuk mengoptimalkan potensi panas bumi (geothermal) melalui BUMN seperti PT Geo Dipa Energi.
Purbaya menilai pemanfaatan energi hijau dapat menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan daya saing industri nasional, terutama sektor yang berorientasi ekspor seperti tekstil dan alas kaki.
Menurutnya, pasar global, termasuk Eropa, semakin memperhatikan aspek keberlanjutan dalam perdagangan. Karena itu, ketersediaan energi bersih dengan biaya yang kompetitif dapat memberikan nilai tambah bagi produk Indonesia.
"Ada free trade dengan Eropa, katanya dengan Eropa itu ada special treatment untuk produk-produk yang memakai energi baru terbarukan, termasuk geothermal. Kenapa enggak saya drill lebih banyak geothermal? Saya investasi di situ untuk memberi energi ke suatu pusat industri tekstil sehingga dia bisa ekspor ke Eropa dengan lebih kompetitif," jelasnya.
Purbaya optimistis transformasi kebijakan fiskal, penguatan industri manufaktur berbasis energi bersih, serta dukungan pembiayaan yang kuat akan membuat perekonomian Indonesia semakin tangguh dan inklusif.
Pemerintah, lanjutnya, akan terus mencari terobosan untuk memastikan berbagai instrumen kebijakan yang tersedia dapat digunakan secara maksimal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan memperkuat posisi Indonesia di pasar global. (R)
beritaTerkait
komentar